Festival Seni dan Dialog Budaya Kebangsaan (Peringatan 1 Abad Gereja Kristen Jawa Gondokusuman Yogyakarta)

Tahun ini, tahun yang sangat dibanggakan oleh Majlis  Gereja Kristen Jawa Gondokusuman Yogyakarta. Bagaimana tidak, di tahun 2013 ini Gereja Kristen Jawa Gondokusuman telah menapak perjalanan yang ke 100 tahun. Sungguh suatu kesyukuran yang luar biasa melihat perjalanan panjang gereja ini yang telah memberikan manfaat banyak bagi masyarakat Yogyakarta khususnya umat Kristiani.

Dalam memperingati 1 abadnya, Gereja Kristen Jawa Gondokusuman mengadakan acara Festival Seni dan dialog  budaya kebangsaan pada hari Senin 11 November 2013. Acara dimulai pada pukul 18.00 WIB dengan performance tari ragam Nusantara seperti tari Lando Rundu dari Toraja, tari Darah Unoi dari Kalimantan Barat, tarian dari Nusa Tenggara Timur, Bali, Irian, Sumatera Utara dan lain sebagainya, juga ada performance paduan suara Nusantara oleh mahasiswa-mahasiswi STIKES Bethesda Yogyakarta. Selingan pergantian performance juga diisi oleh lawakan kocak oleh Den Baguse Ngarso dan Pdt. Fendi Susanto selaku pembawa acara. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan dialog budaya kebangsaan dengan narasumber  Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Prof Dr Syafei Maarif, atau yang terkenal dengan Buya Syafei. Tetapi sungguh disayangkan, karena Buya Syafei sakit, maka beliau tidak dapat menghadiri acara pada waktu yang telah ditentukan. Namun demikian tak mengurangi antusiasme para tamu undangan dari berbagai lembaga seperti akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada, Perwakilan Wilayah Nahdhatul Ulama, Ahmadiyah, Forum Persatuan Umat Beragama (FPUB), dan beberapa jemaat dari berbagai agama lainnya untuk tetap mengikuti acara dialog budaya kebangsaan ini.

Dialog Budaya Kebangsaan

Pada kesempatan acara ini, Sri Sultan sebagai narasumber menyampaikan pesan sekaligus mengajak masyarakat untuk membangun peradaban Yogyakarta dengan semangat berketuhanan, berkeadilan dan berkemanusiaan. Sultan menyampaikan bahwa falsafah pancasila harus benar-benar dihayati dan dilaksanakan, karena pancasila merupakan perekat perbedaan, mampu bersinergi hingga terbentuk masyarakat yang harmonis. Sultan juga menyampaikan bahwa kita jangan sampai membuang apa yang Sultan sebut “budaya Pribumi”, hilangnya budaya pribumi ini dapat menjadi ancaman bagi keutuhan pancasila. Pancasila harus dimanifestasikan secara utuh, dan keadilan sosial menjadi tujuan utama, karena dengan kondisi sosial yang adil maka akan menumbuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin solid. Dengan nilai-nilai pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan, dan berkeadilan inilah, Sultan mengajak masyarakat untuk membangun peradaban Yogyakarta yang toleran.

Dalam hubungan agama-agama, sultan menyampaikan agar para penganut agama bersatu dan mencari titik temu diantara berbagai perbedaan agama. Terdapat beberapa persamaan substasial di berbagai kitab suci yang tercermin melalui berbagai ayat, salah satu contoh Bibel dan Al-Qur’an. Misalnya dalam Yesaya pasal 60 ayat 1 yang berbunyi “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”. Hal ini memiliki persamaan dengan surat al-Muddattsir  yang berbunyi “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah”.  Kemudian pada Kejadian, pasal 12 ayat 2-3 berbunyi “aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat – aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”. Pernyataan ini sama dengan Surat al-Ahzab ayat 56-57 yang berbunyi: “ sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi. Hai orang orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya – sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulnya , Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.  Terakhir, Sultan menyeru agar melihat perbedaan melalui sudut pandang inklusivisme dan pluralisme guna menghindari sikap-sikap intoleransi.

Materi dialog selanjutnya disampaikan oleh Dr. H.M Muslich sebagai pengganti dari Buya Syafei. Beliau seorang penulis, dan bukunya yang baru diterbitkan adalah “Nilai-nilai Universal Agama, Menuju Indonesia Damai”. Dalam kesempatan ini, beliau berpesan bahwa orang-orang yang beriman (apapun agamanya) jika benar-benar memahami nilai-nilai religiusitas, maka tidak akan ada sikap eksklusivisme radikal dalam beragama.

Acara Festival Seni dan Dialog Budaya Kebangsaan berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Waktu yang terlihat kurang untuk dialog lintas agama dan budaya semacam ini, kenapa penulis katakan kurang? Ya,terlihat dari antusias para tamu undangan yang ingin bertanya dan share mengenai tema terkait, tetapi apa boleh dikata… waktu untuk beberapa termin sudah tidak dibuka kembali. (apalagi temen-temen UIN belum ada yang “berkicau”… wah belum ramai rasanya. :D)

Demikianlah laporan singkat dari lokasi penyelenggaraan dialog budaya kebangsaan (cieeh,, kayak reporter di TV aja.. gk usah serius amat ya gan… :D). Penulis sangat mengapreiasi usaha dari majlis Gereja Kristen Jawa yang menggaungkan wacana inklusifisme, terbuka agar terhindar dari sikap curiga antar pemeluk agama. Ini usaha yang patut untuk diteruskan dan dikembangkan oleh pemeluk agama apapun. (MuzayyinAhyar2013)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *