Pemikiran Politik dan Pemerintahan Ikhwan As-Shafa

Tidak diragukan lagi bahwa pasca runtuhnya dinasti umayyah, kekuasaan diambil alih oleh dinasti Abbasyiah, dinasti yang menisbatkan nama kekuasaannya pada Ibnu Abbas, paman Rasulullah. perjalanan politik pada dinasti ini lebih lama dari dinasti sebelumnya yang hanya memegang kekuasaan selama 90 tahun. Pada tahun 233 H, Mu’tazilah yang telah lama menjadi madzhab dan sistem berfikir negara yang resmi dibatalkan oleh al-Mutawakkil (232-247 H/847-861 M). Pasca pembatalan tersebut, terdapat kegelisahan beberapa orang yang masih berhaluan mu’taziliy, situasi politis inilah yang disinyalir sebagai proses fertilisasi dari lahirnya Ikhwan as-Shafa, pergerakan “bawah tanah” yang di dalamnya terdapat beberapa orang yang ahli ilmu pengetahuan dari beberapa  disiplin ilmu, termasuk mengenai pendapat tentang politik dan pemerintahan.

  1. A.  Mengenal Ikhwan as-Shafa

317148_10150319199194797_678704796_7917630_1790149204_a Ada kemungkinan kerahasiaannya ini dipengaruhi oleh konsep taqiyyah ajaran Syiah, karena basis gerakannya ada ditengah komunitas Sunni yang tidak sejalan dengan ideologinya. Tokoh pemuka sebagai pelopor organisasi ini adalah Ahmad ibnu Abdullah, Abu Sulaiman Muhammad ibnu Nashr al-Busti yang terkenal dengan sebutan al-Muqaddasi, Zaid ibnu Rifa’ah dan Abu al-Hasan Ali ibnu Harin al-zanjany.[2]

Nama Ikhwan as-Shafa diturunkan dari sebuah kisah burung merpati, salah satu kisah populer dalam kitab kalilah wa dimmah yang ceritanya berintikan pada persahabatan dan tolong menolong yang sangat baik antara burung merpati dengan binatang binatang yang lain. Kisah ini diambil oleh Ikhwan as-Shafa sebagai penamaan dirinya, karena ajaran moralnya yang bernilai tinggi.[3] Ada beberapa nama yang juga dinisbatkan untuk Ikhwan as-Shafa ini, diantara lain; khulan al-wafa, ahlu-l-‘adli, abna’u-l-hamdi.[4]

Timbulnya organisasi yang bergerak dalam bidang keilmuan dan juga bertendensi politik ini ada hubungannya dengan kondisi dan nuansa politik dunia Islam ketika itu. Sejak pembatalan teologi rasional Mu’tazilah sebagai madzhab negara oleh al-Mutawakkil, maka kaum rasionalis dicopot dari jabatan pemerintahan, kemudian diusir dari Baghdad. Berikutnya penguasa melarang mengajarkan kesusastraan, ilmu, dan filsafat. Kondisi yang tidak kondusif ini berlanjut pada khalifah khalifah sesudahnya. Hal ini menimbulkan suburnya cara berpikir tradisional dan meredupnya keberanian berpikir rasional umat. Pada sisi lain berjangkit pola hidup mewah dikalangan pembesar negara. Maka, masing masing golongan berusaha mendekati khalifah untuk menanamkan pengaruhnya sehingga timbul persaingan tidak sehat yang menjurus pada timbulnya dekadensi moral.

Berdasarkan itulah menurut At-Tauhidi lahirnya Ikhwan as-Shafa yang ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya pada jalan kebahagiaan yang diridhai Allah. Menurut mereka, syariat telah dinodai bermacam macam kejahilan dan dilumuri keanekaragaman kesesatan. Satu satunya jalan untuk membersihkannya adalah filsafat.[5]

Terkait dengan perihal penetapan tempat asal kemunculan dari gerakan Ikhwan hingga saat ini masih sering terjadi perdebatan dikalangan para sejarawan dan pemerhati filsafat, hal ini dikarenakan pergerakan mereka yang bersifat rahasia hingga kurangnya publikasi dari karya karya gerakan ini pada zamannya. tetapi ada semacam kesepakatan universal perihal kelahiran Ikhwan as-Shafa, yaitu dua kota besar yang berada di timur tengah; Baghdad dan Bashrah. Kesepakatan inipun masih terjadi perdebatan lagi antara sentral dan cabang dari pergerakan Ikhwan as-Shafa, tetapi sepertinya tidak ada pembedaaan dari Ikhwan as-Shafa mengenai sentral dan cabang seperti yang tertulis dalam karya Rasail Ikhwan as-Shafa “Saana Allahu qodarohum wa harosahum haytsu kaanuu fi l bilaadi” “semoga Allah mencukupi dan menjaga mereka di negeri manapun mereka berada”.[6]

Menyangkut tempat awal lahirnya Ikhwan as-Shafa, ada kecenderungan para sejarawan dan pemerhati filsafat hingga orientalis menunjukkan kepada kota Bashroh. Letak kota bashroh cukup strategis, sebuah kota metropolitan sentral berlangsungnya proses dialog interaktif umat Islam dengan sejumlah peradaban asing yang lebih maju. Oleh karena itu selain kelak muncul berbagai paham yang dinilai bisa membahayakan umat Islam, dari kota ini juga telah lahir sejumlah pemikir Islam yang sangat handal. Bahkan, mendahului kemunculan Ikhwan as-Shafa – dan tentu sesudahnya – dari kota Bashroh itu telah lahir Hasan al-Bishri (w. 110 H), Washil bin ‘Atha’ (w. 130 H) pendiri Mu’tazilah sebagai aliran kalam, Abu Hasan al-‘Asy’ari (w. 324 H) pembangun kalam Ahl as-sunnah wa l jama’ah, dan masih banyak lagi, yang dari sudut pandang pemikiran Islam, ketokohan mereka itu sudah jelas tidak perlu diragukan lagi.[7]

Dari berbagai teori awal kemunculan Ikhwan, berbagai tokoh yang mengulas tentang Ikhwan sepakat bahwa kelompok ini mulai tampak ataupun menampakkan diri pada masa dinasti Buwaih berkuasa. Dinasti Buwaih merupakan dinasti yang masih termasuk zaman dinasti Abbasyiah, dinasti ini berasal dari tiga bersaudara yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad Ibnu Buwaih, dinasti ini juga berhaluan Syi’ah.[8] Ikhwan agak menunjukkan keberadaannya pada dinasti ini sejak pemerintahan pertama Mu’iz ad-Daulah (334 H) hingga al-Malik ar-Rahim (440-447 H). Nampaknya angin segar menempa mereka karena para pembesar Buwaih ini secara ideologi keagamaan berhaluan Syi’ah. Namun demikian, tetap saja ke-eksisan Ikhwan di kalangan masyarakat masih terkesan setengah hati, mereka masih saja menutup diri dari masarakat luas. Mungkin, hanya Abu Hayyan at-Tauhidi (313 – 413H/ 923 – 1023M) pada masa ini yang banyak mengulas tentang Ikhwan karena memang beliau hidup sezaman dengan tokoh ikhwan dan ketika “proyek” rasail Ikhwan As-Shafa dibuat.

Militansi keanggotaan Ikhwan sangat terjaga, dalam hal keanggotaan Ikhwan as-Shafa membagi anggotanya kepada empat tingkatan:

  1. Ikhwan al-Abror al-ruhama’, yakni kelompok yang berusia 15 – 30 tahun yang memiliki jiwa suci dan pikiran yang kuat. Mereka berstatus murid, karenanya dituntut tunduk dan patuh secara sempurna kepada guru.
  2. Ikhwan al-Akhyar wa al-fudhala’, berusia 30 – 40 tahun. Pada tingkat ini mereka sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang, dan siap berkorban demi persaudaraan (tingkat guru-guru).
  3. Ikhwan al-fudhala al-kirom, berusia 40 – 50 tahun. Dalam kenegaraan kedudukan mereka bagaikan sultan atau hakim.
  4. Al-Kamal[9], yakni kelompok berusia 50 tahun ke atas. Mereka disebut tingkatan al-muqorrobin min Allah karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka sudah berada di atas alam realitas, syariat dan wahyu sebagaimana malaikat al-muqorrobin.[10]

 

Apabila kita kaitkan pembagian tokoh ini dalam pembahasan masyarakat dan Negara, maka inilah penduduk dari masyarakat “al-madinah al-fadhilah” sebuah konsep Negara yang akan kita bahas pada bab selanjutnya.

Untuk para tokoh-tokoh Ikhwan as-Shafa, sejauh ini belum banyak diketahui dan masih banyak membingungkan para sejarawan muslim ataupun orientalis yang ingin mengetahui hal ini. Hanya ada beberapa orang yang disinyalir kuat dengan keterlibatannnya dengan Ikhwan as-Shafa, antara lain sebagaimana yang disebutkan at-Tauhidi (telah disebut juga pada paragraph sebelumnya) ; az-Zanjani, Zaid ibnu Rifa’ah, Abu Ahmad an-Nahrajuri, al-‘Aufi, dan Muhammad Ibnu Abi al-Baghl.

  1. B.  Pemikiran umum Ikhwan as-Shafa

Secara umum, pemikiran Ikhwan as-Shafa tertuang dalam sebuah magnum opusnya yang berjudul rasail ikhwan as-shafa wa khullaanul wafa. Karya ini lebih pantas disebut ensiklopedi karena di dalamnya terdapat beragam pemikiran Ikhwan dari berbagai disiplin ilmu. Lebih spesifik lagi, rasail ini terdiri dari 52 risalah yang diklasifikasikan menjadi empat bagian

  1. Risalah pengajaran Matematika. Terdiri dari 14 risalah, mencakup bilangan, astronomi, musik, geogafi, seni, dan logika.
  2. Risalah fisika dan ilmu alam. Terdiri dari 17 risalah, mencakup geneologi, mineralogi, alam semesta, keterbatasan manusia, dan kemampuan kesadaran.
  3. Risalah ilmu jiwa dan akal. Terdiri dari 10 risalah, mencakup hal metafisik, phytagorianisme dan kebangkitan alam.
  4. Risalah tentang ilmu ilmu ketuhanan. Terdiri dari 11 risalah, meliputi kepercayaan dan keyakinan, hubungan alam dengan Allah, aqidah, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, politik, kekuasaan tuhan, dan hal-hal mistik.[11]

Apabila digeneralisir, pemikiran Ikhwan as-Shafa berupa pemikiran-pemikiran filosofis yang tertuang dalam berbagai bidang keilmuan seperti matematik, astronomi, mantiq dan lain sebagainya. Sumber pemikiran Ikhwan sebenarnya berada pada filsafat ke-ilahian, dalam artian segala sesuatu pemikiran Ikhwan dirasionalisasikan agar menjadi suatu kebenaran dan pendukung akan ke-esaan Tuhan. Dalam rasail tertulis:

اعلم أيها الأخ البار الرحيم، بأنه لما كان من مذهب إخواننا الكرام – أيدهم الله  – النظر في جميع علوم الموحودات التي في العالم، من الجواهر والأعراض والبسائط والمجردات والمفردات والمركبات، والبحث عن مبادئها وعن كمية أجناسها وأنواعها وخواصها، و عن ترتيبها ونظامها على ما عليه الآن، وعن كيفية حدوثها ونشوئها عن علة واحدة، ومبدأ واحد، من مبدع واحد – جل جلاله –

Salah satu contoh adalah pemikiran filosofis mengenai angka. Ikhwan berpendapat  bahwa segala sesuatu berasal dari “satu” yang tidak terbagi,[12] dan bilangan asli adalah satu karena satu adalah awal dari penghitungan sebelum bilangan ketiadaan. Sesuai firman Tuhan; wa ilaahukum ilaahun wahid, maka satu adalah analogi Allah yang diutarakan Ikhwan di dalam rasailnya.

Contoh lain adalah tentang teori al-faidh atau  dalam istilah lain al-isyraq yang bermakna emanasi atau pancaran. Teori ini menjelaskan tentang pancaran Tuhan hingga tercipta seluruh makhluk yang ada di alam semesta. Teori ini berawal pada pancaran abadi ilahi (al-kamaal al-ilaahiy al-azaliy), kemudian dari pancaran ini melahirkan akal aktif (al-‘aql al-fa’aal), dari akal aktif ini lahirlah jiwa universal (an-nafs al-kulliyat), kemudian dari materi ini terpancarlah materi pertama (al-hayula al-ula), dari al-hayula al-ula ini kemudian membentuk materi absolut (al-jism al-muthlaq) yang menyebar menjadi galaksi, bintang-bintang, planet dan empat unsur (al-arkan al-arba’ah) api, udara, air dan tanah yang terdapat pada suatu ruang di galaksi ini. sehingga dari semua pancaran inilah tercipta dan terbentuknya alam semesta.[13] Teori emanasi atau pancaran Tuhan ini terilhami dari surah an-Nur ayat 35 yang menyatakan bahwa bumi ini mendapat pancaran cahaya dari Allah. Konsep al-faidh inilah yang menjadi dasar dari filsafat politik kepemimpinan Ikhwan.

  1. C.  Pemikiran politik dan pemerintahan menurut Ikhwan as-Shafa
    1. 1.    Pemikiran filsafat politik dan politik terapan.

Sebelum menjamah maksud politik menurut Ikhwan, alangkah baiknya jika kita mengetahui bahwa terdapat 4 macam ilmu kefilsafatan, antara lain: matematika, manthiq, alam dan ketuhanan.[14] Politik adalah salah satu ilmu yang dikategorikan oleh Ikhwan sebagai ilmu kefilsafatan dan merupakan bagian dari ilmu manthiq.

Ikhwan menulis kata (بولوطيقا ) sebagai bentuk siyasah atau politik dalam buku ensiklopedi yang berjudul rasail ikhwan as-shafa. Politik di sini ia maksudkan sebagai pengetahuan membuat suatu petunjuk kebenaran (ma’rifatu sina’atil burhan). Lebih detail lagi kata “al-burhan” sebagai definisi dari politik yang dimaksud ikhwan adalah alat timbang  para ahli fikir untuk mengetahui sesuatu kebenaran dari setiap omongan ataupun fikiran.[15] Apabila kita melihat dalam ilmu politik modern, maka salah satu yang ada dalam politik adalah to seek a truth, mencari sebuah kebenaran dengan segala pertimbangan rasio. Apa yang dimaksud Ikhwan dalam politik ini adalah filsafat politik, lebih berbicara mengenai value dari politik itu sendiri.

Kategori aplikasi politik dibahas oleh Ikhwan pada halaman selanjutnya dari kitab rasail, kali ini Ikhwan menggunakan ungkapan as-siyasah (السياسة  ). Dalam rasail tertulis bahwa bahwa ilmu politik (السياسة  علم) pada penerapannya terbagi menjadi lima: politik kenabian, politik kerajaan, politik umum, politik khusus dan politik identitas[16].

Politik kenabian (as-siyasah an-nabawiyyah) merupakan pengetahuan meletakkan hukum-hukum yang disahkan dan dilegalkan dengan perkataan perkataan (para nabi), politik ini hanya digerakkan oleh para nabi.

Politik kerajaan (as-siyasah almulukiyyah) adalah pengetahuan tentang bagaimana menjaga sebuah syari’ah atas ummat. Mencegak kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan. Politik ini hanya khusus pada perwakilan para nabi, yaitu para imam yang telah diberi petunjuk oleh Tuhan.

Adapun politik global (as-siyasah al-‘amiyah) adalah politik yang kita rasakan sekarang, politik kepemimpinan pemimpin dalam mengurus rakyatnya, gubernur dalam mengurus provinsi, atau kepala militer dalam mengatur prajuritnya. Segala bentuk politik antara masyarakat dan pemerintah menurut Ikhwan masuk ke dalam tingkatan siyasah ‘amiyah  ini.

Selanjutnya adalah politik local (as-siyasah al-khosiyah) adalah pengetahuan manusia mengenai pengaturan lingkungan hidupnya, misalnya managemen keluarga, pendapatan hidup, pergaulan dan hubungan dengan tetangga, keluarga dan kerabat kerabat lainnya. Dalam hal ini Ikhwan ingin membuktikan bahwasannya nuansa politik bukan hanya terdapat pada Negara, pemerintah ataupun instansi dalam skala besar, melainkan politik juga bias terdapat instansi local seperti keluarga.

Terakhir adalah politik identitas diri (as-siyasah adz-dzatiyah), yaitu bagaimana manusia mengetahui dirinya, baik melalui lahiriah seperti perbuatan (af’al) maupun hal-hal yang bersifat batiniah serta kualitatif seperti marah ataupun sifat sifat lainnya pengaruh dari setiap sesuatu dari dirinya.

  1. 2.    Pemimpin dalam pandangan Ikhwan

Konsepsi kepemimpinan dalam dunia Islam sangat familiar dengan dua kata; khilafah dan imamah. Meskipun beberapa ulama memiliki pemahaman adanya perbedaan antara imamah dan khilafah ini; bahwa imamah adalah seorang faqih dan berilmu dan memiliki kuasa umum atas urusan kaum muslimin (Ibnu Hazm), dan pandangan lain bahwa kholifahlah yang bersifat umum (pandangan mayoritas syi’ah).[17] Tetapi menurut Ikhwan tidaklah berbeda antara khalifah dan imam.

Khilafah dan Imamah adalah amanat yang diwariskan oleh Nabi, sedangkan para nabi, langsung mendapatkan mandat khilafah dari Allah. Ikhwan merujuk ini pada surat al-Baqarah ayat 30 tentang Nabi Adam. Ikhwan berpendapat bahwa khalifah pertama adalah Adam. Setelah wafatnya Rasulullah, menurut Ikhwan khalifah ideal adalah dari kalangan ahlul bayt,[18] hal ini wajar mengingat Ikhwan mendukung kemajuan dinasti Buwaih pada saat itu yang bercorak Syi’ah.

Hal terpenting yang harus dilakukan oleh khalifah menurut Ikhwan adalah kemampuan untuk menjaga syariat agama, memperbaiki akhlak,  dan yang ideal lagi adalah pemimpin yang mampu menguasai permasalahan dunia dan akhirat bersamaan, jadi terdapat dua urusan yang dikuasai oleh khalifah; urusan “kenabian” yaitu menjaga syariat Tuhan dan urusan kerajaan yang bersifat kebijakan publik.[19]

 

  1. 3.    Al-Madinah al-fadhilah

Dalam hal masyarakat dan Negara, Ikhwan memberikan pendapat tentang bentuk masyarakat sempurna. Suatu lembaga masyarakat dianggap sempurna apabila masuk dalam salah satu dari tiga kategori yang disebut oleh Ikhwan sebagai lembaga masyarakat sempurna (al –jtima’at al-kamilah), macam al –jtima’at al-kamilah tersebut adalah: Negara, umat dan dinasti.

Madinah dalam pandangan Ikhwan adalah Negara kesatuan yaitu bentuk satuan terkecil dari perkumpulan masyarakat sempurna, Negara ini hanya melengkapi satuan Negara yang menjadi territorial wilayahnya saja. Ummat merupakan suatu kesatuan ummat yang memiliki kesatuan ideology dan terwujud dalam perilaku atau sifat, letak kedekatan geografis, kesatuan sejarah yang membentuk umat tersebut, dan kesatuan tradisi. Kesatuan ummat ini lebih besar daripada kesatuan Negara. Kemudian untuk kesatuan yang lebih besar adalah dinasti alam. Konsep seperti ini apabila semua urusan pemerintahan dan keagamaan di bawah satu komando atau satu kepemimpinan. Senada dengan Ikhwan as-shafa, Konsep semacam ini juga digunakan oleh al-Farabi dalam mendeskripsikan pemerintahan masyarakat, tetapi dengan bahasa yang berbeda yaitu;pemerintahan masyarakat besar, menengah dan kecil.[20]

Melalui konsep masyarakat ini, Ikhwan sepertinya lebih memilih pemerintahan yang moderat di antara tiga bentuk pemerintahan masyarakat, tidak terlalu universal dan tidak terlalu particular. Ikhwan menekankan kepada tujuan utama dari pembentukan pemerintahan ini, yaitu saling tolong menolong dan berhubungan dalam kebaikan (Ta’awun ‘alal birri wa attaqwa).[21]

Apabila semua sistem politik pemerintahan serta pemimpin telah terpilih dan menjalankan amanatnya, maka ada suatu hasil Negara terlahir dari system pemerintahan yang mana Negara ini adalah Negara ideal menurut Ikhwan, mereka menyebutnya al-madinah al-fadhilah. Al-Madinah al-fadhilah merupakan suatu konsep Negara dari Ikhwan setelah seluruh persyaratan kekuatan tubuh politik sudah terpenuhi secara kolektif. Al-Madinah ini dipimpin oleh imamah yang mampu memadukan kekuatan jasmani dan ruhani, sehingga Negara ini dibangun dengan masyarakat yang memiliki kekuatan ruhaniah dan jasmaniah.[22] Maksud dari jasmani dan ruhani adalah bahwa suatu kesatuan masyarakat itu semacam badan beserta ruhnya, di mana satu anggota tubuh saling berhubungan dan saling medukung satu dengan lainnya, bukan saja anggota fisik tetapi juga ruh dari tubuh tersebut yang mana ruh ini adalah inti dari pergerakan anggota tubuh tersebut.

Ikhwan memberikan persyaratan agar ide tentang al-madinah al-fadhilah ini terwujud dan benar benar menjadi suatu Negara yang berbeda dan lebih unggul dari al-madinah al-jairoh.[23] Persyaratan pertama adalah penduduk negeri harus lebih baik dalam memahami hukum hukum. Para penduduk negeri ini harus berperilaku baik dan terpuji, karena mereka bergaul sesama penduduk negeri yang utama ini harus dengan penuh kebaikan. Selain itu harus memiliki perilaku yang berbeda yang tentunya lebih baik dari al-madinah al-jairoh, tetapi dalam berhubungan dengan penduduk negeri mereka harus dengan hubungan yang baik pula. Syarat selanjutnya bahwa negeri ini harus dibangun bukan dengan dasar jasadiy atau materialisme yang dengannya banyak dari al-madinah al-jairah hancur lebur tertimpa musibah, Al-madinah al-fadhilah harus berdasarkan hati suci para penduduknya.[24]

  1. D.  Konstruksi Politik Ikhwan as-shafa: sebuah ulasan kritis

Untuk memetakan pemikiran politik dan pemerintahan Ikhwan as-shafa, mula-mula harus kita hadapkan dengan realitas sosial serta background pemikiran yang melingkupi pemikiran Ikhwan. Melalui berbagai literatur, didapat bahwa secara ideology keagamaan mereka mayoritas berasal dari madzhab Syi’ah, karenanya banyak konsep dalam rasail yang tertulis secara eksplisit mengidentitaskan mereka sebagai syi’iy misalnya dalam konsep imamah. Ikhwan dalam mengungkapkan teori politiknya masih terlalu ber-aroma sectarian, sehingga masih terasa adanya disparitas aliran antara satu dengan yang lainnya. Hal semacam ini akan berdampak nantinya pada partisipasi politik yang terkesan terlalu “memaksakan”, memaksakan merubah keyakinan ideologi kepada penguasa politik. Teori partisipasi elitisme demokratis semacam ini digunakan oleh kaum instrumentalis yang memandang bahwa partisipasi politik adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih penting.[25]  Apabila ditinjau dari teori partisipasi politik ini, maka dalam semangat politik Ikhwan sangat kontradiktif dengan semangat universalitas dan pluralitas keilmuan (yang termanifeskan dalam pluralitas masyarakat) yang diungkapkan Ikhwan dalam rasailnya.

Uraian-uraian Ikhwan mengenai politik (bahkan mengenai permasalahan lainnya) berhaluan eklektis, dalam hal ini Ikhwan memadukan banyak pemikiran Plotinus dengan doktrin Islam dalam hal ketauhidan. Karena tauhid inilah, seakan konsep politik menurut Ikhwan bukan sebuah bangunan keilmuan yang dapat dikembangkan sesuai zaman, melainkan sebagai doktrin  yang bersifat sakral dan jauh dari ilmu-ilmu lainnya yang bersifat profan. Kesakralan bangunan keilmuan inilah yang menjadikan konsep politik Ikhwan mengalami stagnasi, kitab rasail pun sepertinya kurang pantas apabila dijadikan buku acuan berpolitik, ia hanya menjadi semacam values atau nilai-nilai filsafat politik karena memang filsafat politik merupakan studi tentang ide-ide dan institusi-institusi yang berkembang sepanjang waktu.[26] Selain itu pergerakannya pun bersifat eksklusif dan jauh dari jangkauan masyarakat awam serta kurangnya sistem kaderisasi, inilah juga yang menjadi salah satu kematian pergerakan Ikhwan berikut dengan pemikiran-pemikiran politiknya.

 

 

  1. E.  Penutup

Ikhwan as-Shafa merupakan sebuah organisasi dan pergerakan rahasia yang hidup subur pada abad ke 4 H/10M terlebih ketika dinasti Buwaih berkuasapada dinasti Abbasyiah. Ikhwan pada dasarnya adalah gerakan keilmuan filsafat. Pemikiran pemikiran filsafat Ikhwan tertuang dalam magnum opusnya; rasail ikhwan as-shafa yang terdiri dari 52 risalah pembahasan yang didalamnya juga terdapat teori tentang politik dan pemerintahan, sehingga dari sanalah terlihat tendensi politik dari pergerakan Ikhwan ini. Meskipun terdapat beberapa kritik terkait dengan ideology, Ikhwan as-shafa perlu kita apresiasi sebagai pergerakan yang memiliki semangat untuk memajukan semangan keilmuan dari berbagai disiplin ilmu, salah satunya ilmu politik.

Politik dalam pandangan Ikhwan berasal dari pemikiran filsafat ketuhanan atau filsafat ke-ilahiannya (dengan konsep ilahun wahid), bahwa Tuhan merupakan pengatur pertama segala urusan merupakan ciri dari filsafat politik Ikhwan. Dalam konsep kepemimpinan Ikhwan, terlihat bahwa konsep imam adalah manifestasi dari filsafat al-faidh dimana imam adalah suatu pancaran dari Tuhan yang memiliki otoritas menjaga syariat yang telah di amanatkan Tuhan kepada manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

At-Tauhidi, Abu Hayyan. Al-Imta’ wal Mu’anasah, jus II, Mesir: lajnatu ta’lif wat tarjamah wan nasyr, 1944.

Farid Hijab, Muhammad. al-falsafah as-siyasah ‘inda ikhwan as-Shafa, Mesir: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘aamah lilkitab, 1982.

Fu’adi, Imam. Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Teras, 2011.

http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H040

as-Shafa, Ikhwa. Rasailu Ikhwan as-Shafa, Format PDF.

Faulks, Keith. Sosiologi Politik, Pengantar Kritis. Bandung: Nusa Media, cet II 2012.

Muniron, Epistimologi Ikhwan as-Shafa, Yogyakarta:Pustaka Pelajar,  2011.

Zaprulkhan, Filsafat Umum, Sebuah Pendekatan Tematik. Jakarta: Rajawali Press, 2012.

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam. Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.



[1] Muniron, Epistimologi Ikhwan as-Shafa, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,  2011) hlm 78.

[2] Abu Hayyan At-Tauhidi, Al-Imta’ wal Mu’anasah, jus II, (Mesir: lajnatu ta’lif wat tarjamah wan nasyr, 1944) h 5

[3] Muniron, Epistimologi Ikhwan as-Shafa, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,  2011) h 66.

[4] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, h 2.

[5] Abu Hayyan At-Tauhidi, op.cit. h 5

[6] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, hlm 2

[7] Muniron, Epistimologi Ikhwan as-Shafa, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,  2011) hlm 77.

[8] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011) h 185.

[9] Untuk penamaan istilah “al-kamal” ini, tidak disebutkan dalam rasail. Sepertiny, Sirajudin zar merujuk ulasan lain dalam penamaan ini.

[10] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h 141.

 

[11] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, hlm 2

 

[12] Dalam memaknai satu, Ikhwan membagi “satu” ke dalam dua bentuk; satu haqiqi             (الواحد با لحقيقة ) dan satu majazi (الواحد المجازي ) , satu haqiqi adalah satu yang tidak dapat terbagi, satu itu sendiri. Sedangkan satu majazi adalah satu yang mampu terbagi (dalam bahasa lain satuan selain satu) misalnya 4, 5, atau sepuluh yang satu, seratus yang satu . selengkapnya lihat rasail pada bab yang membahas mengenai bilangan (fasl fil ‘adad)

[13] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, h 586.

[14] Ibid, h 102.

[15] Ibid, h 103.

 

[16] Ibid, h 104

[17] Muhammad farid hijab, al-falsafah as-siyasah ‘inda ikhwan as-Shafa, (Mesir: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘aamah lilkitab, 1982). H 397.

[18] Ibid, h 400.

[19] Ibid, h 399.

 

[20] Ibid, h 399.

[21] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, hlm 692

[22] Ibid, h 691.

[23] Al-madinah al-jairoh secara terminologi berarti Negara timpang; merupakan sebutan untuk Negara selain Negara yang dianggap ideal oleh Ikhwan as-shafa.

[24] Ikhwa as-Shafa, Rasailu Ikhwan as-Shafa, PDF, hlm 692.

[25] Keith Faulks, Sosiologi Politik, Pengantar Kritis. (Bandung: Nusa Media, cet II 2012) h 230.

[26] Zaprulkhan, Filsafat Umum, Sebuah Pendekatan Tematik. (Jakarta: Rajawali Press, 2012) h 245.index

6 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *