Review Buku Ernest Gellner “Nation and Nationalism”

Buku Ernest Gellner “Nations and Nationalism” secara umum membahas pergeseran antara dunia feodal yang menjunjung kelas-kelas atau strata sosial yang sempit menuju masyarakat modern yang menjunjung jiwa kebangsaan.

Dalam tulisannya, Gellner lebih dulu mencoba mendefinisikan apa itu “nation”, “state” dan “nationalism”. Nation dapat dipahami dari dua definisi kunci: definisi kulturalistik dan definisi voluntaristik. Definisi kultural mengatakan kita bisa disebut satu bangsa apabila memiliki kesamaan kultur, dalam artian sistem pemikiran, identitas, asosiasi, cara berperilaku ataupun berkomunikasi. Definisi volunteristik mengatakan bahwa kita pun dapat disebut sebangsa apabila kita saling mengakui adanya pendirian, loyalitas dan solidaritas yang membuat kita bersatu. Pendirian dan solidaritas ini dibangun bisa karena atas dasar hunian bersama, nasib atau apapun yang memunculkan kesamaan hak dan kewajiban yang diperjuangkan bersama.

State merupakan wilayah atau teritori yang didalamnya terdapat golongan yang memiliki otoritas politik tertentu untuk “mengatur”, “mengekang” ataupun menghukum manusia yang ada dalam wilayah tertentu tersebut.

Nasionalisme juga dapat diartikan melalui dua defnisi: definisi sentinentil dan definisi pergerakan. Hal pertama, nasionalisme diartikan sebagai sebuah perasaan (nationalism as a sentiment), baik itu perasaan marah yang ditimbulkan oleh pelanggaran-pelanggaran tertentu ataupun perasaan kepuasan yang muncul karena pemenuhan kepentingan atas dirinya. Kedua, nasionalisme sebagai sebuah gerakan (nationalism as a movement), ini hanya aktualisasi dari nasionalisme jenis pertama, artinya nasionalisme bisa menjadi sebuah pergerakan sebagai respon atas sentimen tersebut.

Singkatnya, Gellner ingin mengatakan bahwa “nasionalisme” adalah sebuah rasa atau jiwa memperjuangkan “state” atas nama “nation”. Ini yang dapat saya tangkap dari definisi-definisi yang diutarakan Gellner.

Menurut Gellner, dalam membahas nation dan nationalism ini, tidak bisa dilepaskan dari era perkembangan masyarakat. Gellner membahas perkembangan sejak masyarakat pra-agraria, masyarakat agraris dan kemudian masyarakat industri. Kenapa hal ini juga penting untuk dibahas? Karena perubahan sosial sangat erat kaitannya dengan perubahan kultur. Pada tulisan ini, kita awali pembahasan perubahan dari masyarakat agraris.

Secara kultur, masyarakat agraris hidup di daerah-daerah pedalaman memanfaatkan tanah sebagai sumber kehidupan. Mereka berwatak komunitarian, dan sebagian dari kalangan mereka belum terbekali kemampuan membaca, karenanya, pendidikan mereka (jika ingin tidak menyebut tidak ada) hanya sekedarnya. Kemampuan membaca hanya dimiliki oleh para elit seperti pendeta, militer, dan tuan-tuan tanah. Inilah yang memisahkan struktur mereka (antara elit dan masyarakat produsen atau para petani). Dalam situaasi seperti ini masyarakat tani hanya dipaksa untuk percaya kepada elit, implikasinya, anda tidak perlu membaca kitab suci untuk dapat mengamalkan ajaran suci, cukup dengan melaksanakan perintah kami, anda pasti menjadi orang baik. Situasi ini yang juga menggerakkan Marthin Luther di Jerman membuat terjemahan Alkitab bahasa Jerman –yang sebelumnya berbahasa Latin dan dipelajari secara ekslusif oleh para pendeta- agar masyarakat dapat dengan bebas membaca dan berekspresi akan keagamaannya guna mencapai kemajuan budaya. Secara struktur (sosial dan politik) masyarakat tani tidak memiliki struktur berarti di mata para “elit”, bahkan mereka tidak mendapat pengakuan negara apabila tidak bekerja pada tanah kaum elit.

Ciri Pemerintah Masyarakat Agrarian

Ada beberapa ciri dari pemerintahan masyarakat agraris. Ciri yang paling menonjol adalah sentralistik. Sentralisasi dapat menyebabkan para penguasa mendominasi suasana moral dari sebuah peradaban. Dari pandangan sentralistik, hal yang paling berbahaya (yang telah diramalkan Plato) adalah pengakuisisian dan pengambilan hak milik atas nama militer negara atau para pendeta pemegang kekuasaan. Karena hal ini, tentunya pemerintah pada zaman agraris juga bersifat mengekang. Selain itu sifat pemerintah tertutup, maksudnya terdapat strata sosial yang terlalu kentara dan mengakibatkan adanya “pemaksaan kepercayaan”, tidak perlu ada keterbukaan manajemen, masyarakat harus percaya terhadap kebijakan pemimpin bahwa semua itu demi kebaikan. Selain itu pemerintahan pada masyarakat agraria bersifat terpadu. Maksud dari terpadu adalah kesatuan kekuasaan, apa yang menjadi urusan militer juga merupakan urusan para pendeta.

Ciri pemerintahan pada zaman agraris ini sungguh patrimonial, tidak dapat menimbulkan kemajuan, kesejahteraan dan keamanan pada masyarakat luas. Privilege semacam itu hanya dinikmati oleh para elit.

Memasuki zaman industri

Asal muasal dari masyarakat industri hingga saat ini selalu menjadi objek kajian dan perdebatan pada beberapa kalangan sarjana. Kejadian yang menyebabkan transformasi menuju masyarakat industri sangat komplek, yang jelas awal zaman industri merupakan gerbang masuk ke dalam masyarakat modern dan terbebas dari kekuasaan patrimonial.

Ada beberapa pertanyaan mengenai hubungan kapitalisme dan industrialisme. Apakah kapitalisme dan industrialisme dua hal yang sama, atau berbeda? Dalam hal ini Gellner sedikit “mencolek” Max Weber. Weber menulis dalam essaynya bahwa spirit kapitalisme membawa kemajuan di bagian Eropa Barat karena sesuai dengan nilai-nilai protestan. Pertanyaan Gellner; spirit kapitalisme atau spirit industrialisme? Apakah sama? Apabila sama, buktinya ada negara masyarakat industri non-kapitalis. Dan apabila berbeda, itu juga tidak signifikan, karena sistem kapitalis terlahir dari kultur masyarakat industri. Gellner kemudian menjawab sendiri pertanyaannya bahwa tidak penting apakah kapitalisme atau industrialisme, namun Gellner memfokuskan tulisannya ini pada industrialisme, yaitu salah satu kultur yang menggiring manusia kepada pola pikir kebangsaan.

Peradaban masyarakat industri juga ikut ambil bagian dalam proses nasionalisme. Masa transisi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri dan dilanjutkan dengan jiwa nasionalisme (yang konon katanya membebaskan manusia dari kultur patrimonial) berada dalam track perjalanan panjang. Masyarakat agraris memang merupakan masyarakat produktif (dalam hal agraria), mereka juga mampu memproduksi kebutuhan manusia, namun beralihnya jaman ke masyarakat industri menuntut sebuah percepatan produksi, ini yang membuat kultur masyarakat agraris semakin hilang terseret ke kultur masyarakat industri. Masyarakat industri memiliki ciri-ciri umum yang berbeda dengan masyarakat agraris, Gellner menyebutnya dengan ciri-ciri high culture. Ciri yang paling mendasar adalah budaya literasi yang meluas di masyarakat. Budaya “high” ini kemudian menuntun pada kesadaran akan hak pendidikan bagi setiap manusia. masyarakat industri juga berkaitan dengan tindakan yang lebih rasional, ukuran umum adalah fakta, bukan lagi berasal dari pola pikir metafisis. Dalam hal ini Gellner setarik nafas dengan Weber yang mengatakan kemajuan itu berdasarkan rasionalitas, namun weber lebih mengarah pada terminologi kapitalisme daripada industrialisme. Meskipun demikian, Gellner tetap mengkritik Weber dalam beberapa hal tentang rasionalitas dan kapitalisme.

Ciri lainnya dari masyarakat industri adalah sophistication order atau urusan keduniawian semakin kuat, lebih gesit dalam beraktifitas dalam artian harus siap untuk pergantian aktifitas yang berbeda dalam waktu singkat, banyak berinteraksi dengan orang banyak yang cakupannya bukan hanya klannya saja, sekolah profesi digalangkan dsb, nah di sinilah masa transisi dari agrarian culture kepada industrial culture dimulai.

Implikasi Masyarakat industri dengan ciri-ciri tersebut di atas menuntut pemerintahan yang lebih terbuka, bebas dan tidak tersentralisasi yang mengakibatkan budaya patrimonial semakin kuat. Kesadaran manusia akan equality semakin tinggi, berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas daripada hanya desa atau klannya saja, akibatnya masyarakat yang dibentuk hanya dari klan-klan kecil semakin terkikis. Masyarakat industri lebih memperkuat nations ketimbang harus memikirkan klan mereka yang “jauh tertinggal di sana”. Masyarakat industri ini lebih bersifat individual, individual ini bukan berkonotasi sebagaimana yang masyarakat Indonesia persepsikan (anti bertetangga, pelit, mau menang sendiri dll), individual dalam masyarakat industri berarti memandang seseorang bukan dari klan, suku atau apapun, namun dari personal orang tersebut, berbicara individual juga berbicara mengenai kesetaraan, ini ide dasarnya dari seseorang individual. Konsep wibawa turunan dan otoritas yang sentralistik dan patrimonialistik sudah mulai terkikis pada masyarakat industri dan mulai berganti dengan konsep-konsep kesetaraan. Inilah yang disebut Gellner sebagai kesetaraan dan entropi sosial, masyarakat indusri lebih memiliki itu.

Nasionalisme

Bagi Gellner, pola pikir masyarakat industri inilah yang lebih dekat mengantarkan kita kepada semangat nasionalisme. Dengan nasionalisme, masyarakat diharapkan tidak lagi berfikir klan-sentris ataupun tribal sentris, semua masyarakat dapat berbaur dalam satu rasa kebangsaan. Homogenitas dalam sebuah wadah bernama negara harus mampu membangun semangat persatuan dalam keragaman, tentunya bukan dengan nalar masyarakat agraris terdahulu. Singkatnya, nasionalisme adalah sebagai proses pembentukan kultur suatu bangsa.

Ketika berbicara mengenai kultur, Gellner membedakan antara low culture dan high culture. Dalam proses nasionalisme, kultur yang menjadi aktor utama adalah kultur tinggi, yaitu kultur yang cukup rasional dan dapat diterapkan sebagai kultur nasional, jadi high culture dapat dikatakan rational culture, tolak ukur awalnya adalah literate culture.

 

Tipologi nasionalisme

Gellner berpendapat ada bermacam macam tipe nasionalisme yang diukur dari unit kekuasaan/politik, pendidikan dan kultur. Inggris, Irlandia dan beberapa negara di pantai Atlantik Eropa adalah bagian pertama yang membangun nasionalisme dengan unit politik dan kultur yang cukup efektif. Kemudian terdapat suatu wilayah yang mana unit kulturnya telah matang namun kurang dalam pengelolaan kekuasaan. Wilayah ini (dalam membangun nasionalisme) berangkat dari tatanan dinasti-religius menuju nasionalisme fanatik, seperti Jerman, Itali, Polandia dan Hungaria. Wilayah wilayah tersebut berhasil membangun nasionalisme secara kultur, namun sebagian tidak berhasil secara politik, sebagian wilayah masih merasakan budaya patrimonial. Ada juga wilayah yang tidak memiliki unit politik efektif dan kultur yang baik, wilayah ini akhirnya dapat membangun nasionalisme berdasarkan ideokrasi. Seperti moskow dan sekitarnya.

Persoalan nasionalisme paling dinamis terdapat pada pola di mana wilayah berangkat dari tatanan religius kepada nasionalisme. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh wilayah ini begitu beragam. Tahap pertama ketika sistem dinasti-agama dikuasai oleh orang-orang lalim, standarisasi dan sentralisasi birokrasi dipaksakan yang memaksa manusia hijrah ke arah nasionalisme, namun tidak memiliki prasarat terbentuknya jiwa nasionalisme. Budaya patrimonial terasa sekali pada tahap ini.

Tahap kedua, tahap iredentisme nasionalis yang dipertahankan namun tidak terlalu efektif. Tahap ini merupakan kondisi pada tahun 1820-1918. Prinsip legitimasi eksklusif negara berdasarkan pada kultur. Bisa disebut zaman ini sebagai zaman nasionalisme kultural terbesar. Agenda nasionalisme ini berhasil secara kultural, namun tidak terlalu berhasil dalam politik. Kerajaan Utsmaniah saja, yang merupakan kekuasaan paling kuat pada zaman itu, melahirkan sekitar 5 atau 6 negara nasional penyangga. Jadi nasionalisme politik sudah dimulai pada masa ini. Pada masa ini pemerintahan pemerintahan yang patrimonialistik masih terasa pada negara-negara kultur.

Tahap ketiga adalah tahap kejayaan nasionalisme dan perusakan diri, berlangsungdari tahun 1918 sampai penguasaan Hitler dan Stalin atas beberapa negara Eropa. Ciri ciri negara pada tahap ketiga ini adalah: negara agak kecil yang menyebut diri sebagai sebuah bangsa yang menggantikan kekaisaran-kekaisaran lama yang poli-etnis dan mendapat legalitas dari agama. Negara-negara kecil ini banyak diperintah oleh pemimpin-pemimpin ceroboh, serakah yang ingin sekali menggunakan kesempatan sebaik baiknya tanpa memperhatikan stabilitas. Negara-negara kecil ini banyak yang hancur, terlebih pada tahun 1919. Tahap keempat, dimulai pada tahun 1919, terlebih pada masa kekuasaan Hitler dan Stalin. Pada masa ini Hitler ingin memadukan antara ideologi biologis dan komunalis. Kekuasaan ini memandang minoritas etnis tertentu yang tidak memiliki basis wilayah sangat berbahaya sehingga patut dimusnahkan. Akibatnya kemarahan selama perang dunia ke 2 menyisakan keinginan besar manusia ke arah nasionalisme baru. Inilah tahap ke empat, Gellner menyebut tahap ini sebagai tahap pembersihan etnis.

Tahap kelima, ketika nasionalisme bangkit pada suatu wilayah yang homogen secara kultur. Pada kultur tinggi masyarakat industri yang telah maju, intensitas perasaan etnis berkurang. Kalau pada masyarakat agraris, etnis dijadingan sesuatu untuk membedakan hak istimewa suatu kelompok, namun dalam kultur tinggi masyarakat industri tidak seperti itu. Budaya tinggi pada masyarakat industri, meskipun terdapat berbagai etnis, saling menyerupai. Pada akhirnya kultur tinggi dapat melebur perasaan etnis yang lebih bersifat partikular.

Secara garis besar, Gellner menjelaskan perjalanan rasa kebangsaan manusia. tergambar bahwa dahulu masyarakat berada dalam genggaman kuasa negara patrimonial. Aroma perubahan baru terasa ketika masyarakat melewati perkembangan peradaban dari peradaban agraris ke peradaban industri. Peradaban ini kemudian mempengaruhi pola pikir ke arah lebih rasional dan menjadi sebuah proses pembentukan kultur suatu bangsa. Kultur yang lebih dekat mengantarkan kita pada nasionalisme dan melepaskan masyarakat dari kungkungan patrimonial adalah kultur tinggi masyarakat industri.

 

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *