Marhaban ya ramadhan

Assalamu’alaikum broooh.. haloo.. sebelumnya ane mau ngucapin met puasa deehh.. okee dehh. kali ini ane mau sharing sharing tentang Ramadhan 1436 H. Nahh.. gk usah posting macem-macem tentang bulan Ramadhan deh ya, kesamaan awal puasa lah, berkah dan mitos puasa lah, warung yang tutup waktu bulan puasa, sampe prostitusi yang libur sementara,, gk usah ya.. biarlah itu terjadi sesuai yang dikehendaki oleh-Nya.. tsaaaah.. oleh alam maksudnya.. hihi.

Nah, ane cuma mau posting beberapa ceramah menjelang shalat taraweh di masjid UIN Jogja selama Ramadhan. Ceramah pertama diawali oleh Prof. Minhaji selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga.. okee.. langsung aja yaa… kata orang orang CEKIDOOT.. 😀

****__________________________________________________________________________________****

MinhajiRamadhan 1436 H. Laboratorium Agama Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga melanjutkan tradisi sebelumnya yaitu menampilkan para dosen dan guru besar sebagai penceramah sebelum shalat taraweh dimulai. Sebagai gong pembuka yang mengawali tradisi pada awal malam Ramadhan di tahun ini, Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph.D, Rektor UIN Sunan Kalijaga berbicara banyak hal mengenai kerusakan-kerusakan sosial yang terjadi di era kontemporer saat ini: pembunuhan, pemalsuan, perkosaan dan lain sebagainya.

Mengawali pembicaraannya, Minhaji menjelaskan konteks diturunkannya tiga agama besar di dunia: Yahudi, Kristen dan Islam. Yahudi diturunkan ketika konteks masyarakat Israel dalam sistem perbudakan yang kuat. Stratifikasi sosial kala itu seolah mengatakan bahwa Budak bukan lagi layaknya manusia yang harus dihormati. Zaman itu juga membentuk pola pikir masyarakat menjadi pola pikir budak dan menganut prinsip-prinsip budak, tidak bekerja dan berbuat kecuali diperintah dan dengan ancaman nyata. Sehingga turunlah titah Tuhan melalui seorang Nabi dalam bahasa yang disesuaikan dengan kaum budak “ Ten Commandments”, sepuluh perintah Tuhan. Nalar dari wahyu tersebut sangat sesuai dengan nalar budak yang berbunyi “perintah”, bahwa manusia harus begini, menusia harus begitu, tidak boleh melakukan hal ini dan tidak boleh berperilaku seperti itu, dan semua dengan bahasa perintah agar dapat bergerak.

Secara singkat masyarakat ini menuju secara perlahan kepada masyarakat yang merdeka, sistem perbudakan sedikit mulai terhapus, masyarakat pun mulai menjauh dari pola pikir budak. Maka terciptalah individu-individu yang merdeka dan mampu bergerak tanpa perintah dan sesuai inisiatif sendiri. Namun kehidupan bukan tanpa persoalan, permasalahan sosial beralih pada mental masyarakat yang berperilaku licik, banyak kecurangan dalam perdagangan, menipu sesama manusia, ditambah lagi pemerintahan yang banyak mengkooptasi agama demi kepentingan-kepentingan pribadi tanpa mengindahkan kasih sayang. Maka, agama Kristen muncul dengan karakternya yang tidak banyak lagi menyentuh hukum, tetapi lebih dikenal sebagai agama kasih sayang. Kata kasih sayang menjadi kata sentral dalam teologi Kristen. Dalam perjalanannya, dua agama ini banyak menyebar di berbagai tempat hingga ke Jazirah Arab.

Sepeninggal Nabi Isa, banyak masyarakat tidak mengindahkan kembali nilai-nilai ketuhanan yang diturunkan untuk manusia. kerusakan pun terjadi di mana-mana karena manusia meninggalkan perintah Tuhan. Sehingga, singkat cerita (dalam bahasa Minhaji) setelah enam abad ditinggal oleh Isa, lahirlah Islam sebagai agama yang diturunkan dalam konteks masyarakat yang hampir sama. Perbudakan tetap ada, pembunuhan, mental yang licik dan dekadensi moral. Kalau enam abad saja ditinggal oleh Nabi terlihat kerusakan yang sedimikian rupa, bisa dibayangkan era saat ini yang 15 abad telah ditinggal oleh Nabi. kerusakan, keanehan, dan problem yang muncul di tengah masyarakat beraneka ragam. Minhaji memetakan tiga problem terbesar yang ada saat ini yaitu problem of economy, problem of government dan problem of family yang sarat dengan pendidikan di dalam keluarga tersebut. Mengatasi problem ini, Minhahi mengajak para pendidik untuk tidak memberikan pendidikan dan keilmuan hanya berhenti hingga otak, namun harus diteruskan ke hati. Pendidikan yang sampai ke hati akan memberikan output yang lebih memanusiakan manusia dan tidak hanya mengakali manusia. Ilmu untuk mengamalkan kebaikan dan merubah perilaku; bukan sekedar science for science, but science for behavior; al-‘ilmu li al-‘amal, tidak hanya al-‘ilmu li al-‘ilmi.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *