OLEH-OLEH DARI MANADO

ManadoTulisan ini sebenarnya adalah sebuah refleksi setelah saya mengikuti acara Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke XV di Manado Sulawesi Utara, 3-6 September 2015. Bukan acaranya yang penting, karena bagi saya, acara tersebut hanya bagian kecil dari maksud dan tujuan inti saya berkunjung ke sebuah daerah. Cieehh.. (biar dibilang idealis dikit laah 😀 )
Manado adalah ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara dengan luas daratan sekitar 16.000 ha. Kota yang terdiri dari 9 kecamatan ini berpenduduk mayoritas dari suku Minahasa, dan diklaim bahwa Minahasa ini adalah warga pribumi yang “memiliki” tanah manado tersebut, dalam bahasa mereka diistilahkan dengan “kawanua”.
Jadi begini, tulisan ini terinspirasi oleh sebuah pertanyaan setelah saya melintasi jalan-jalan besar dan kecil di Manado. Setelah dua hari saya diajak sahabat saya berkeliling kota Manado dengan menggunakan kendaraan putih roda dua dengan sistem non-porsneling alias matic, ketika itulah saya baru berani mengutarakan pertanyaan ini: mengapa di Manado tidak terlihat pengemis? Kemana para pengemis yang menjadi fenomena lumrah di Indonesia? Setiap lampu merah, simpangan besar, sudut-sudut kota dan pasar, hampir tidak saya temui para gerombolan pengemis, padahal saya mau sok beramal soleh, bagi-bagi uang giu looh :D. Owh iya, saya ingat, saya sempat melihat di depan salah satu pusat perbelanjaan, tetapi pantaskah disebut pengemis jika orang tersebut membawa barang untuk dijual dengan susah payah karena memiliki kekurangan pada salah satu anggota tubuhnya?? I don’t think so…
Lalu, saya kemudian teringat salah satu karya besar sepanjang abad ke 19.-20, ditulis oleh seorang yang dipromosikan sebagai “founding father of social sciences”. Ya, karya tersebut adalah The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism-nya Max Waber (1864-1920). Dalam bukunya (Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme), Max waber mengangkat sebuah pertanyaan mengenai masyarakat Eropa Barat yang hidup cukup sejahtera, tertib, taat hukum, dan dinamis dalam hal sosial-politik dan ekonomi. Berbeda dengan beberapa kawasan lain di dunia, khususnya dunia Timur ujar Weber. Weber kemudian bertanya kembali, mengapa masyarakat menjadi seperti itu?? jawabannya adalah karena masyarakat tersebut menerapkan birokrasi yang jelas dan administrasi yang baik. Lalu kemudian ia bertanya kembali, dari mana asalnya sistem birokrasi yang jelas dan administrasi yang baik tersebut?? ternyata menurut Weber semua itu berasal dari sistem kapitaslisme yang terjadi pasca revolusi industri di Eropa. Tidak puas dengan itu, Weber kembali bertanya, dari mana pangkal kapitalisme itu?? mengapa di daerah lain, kapitalisme (pada waktu itu) susah untuk berkembang?? oowwhh ternyata, masih menurut Weber, semua itu karena didasari oleh etika (nilai-nilai) Protestant. Naaaah,,, Seperti yang diketahui, inti dari ajaran Protestant adalah beragama secara rasional, substansial dan tidak artifisial atau bersifat performatif saja. Kerajaan Surga dan siksaan neraka harus bisa diwujudkan dulu dengan kondisi kita di dunia. Sehingga, indikator seseorang akan mendapat surga atau neraka dapat dilihat di dunia, ketika seseorang sukses, karirnya bagus, banyak bermanfaat bagi orang lain, itu adalah cerminan bahwa ia akan mendapat surga di kerajaan Bapak kelak. Tetapi, ketika seseorang di dunianya susah, tidak banyak bermanfaat bagi orang lain, menebar konflik pula, wah itulah ciri-ciri orang yang kelak akan mendapatkan neraka jahanam wahai hadirin-hadirat sekalian rahimakumullah. 😀 jadi, lagi-lagi maksud Weber, ketika seseorang tersentuh oleh ajaran Protestant, maka seseorang akan memiliki pola pikir kapitalis, harus mendominasi, tidak boleh didominasi, menjadi atasan (tangan di atas) jauhkan pola pikir menjadi bawahan (tangan di bawah), bergengsi tinggi, mempercepat produksi dll.
Soooo, sekarang saya mencoba mengkaitkan karya Weber ini dengan fenomena “beggar-less” yang saya lihat di Manado. Menurut Bapak Gubernur Sulawesi Utara dalam sambutan pembukaan AICIS, masyarakat Manado mayoritas beragama Kristen Protestan (75-85%). Nah, sekarang kita lihat kota dengan masyarakat mayoritas Muslim semisal Jakarta, Yogyakarta, Samarinda dll. Kota-kota ini merupakan tanah gambut bagi pertumbuhan mereka. Gerombolan pengemis dengan berbagai latar belakang, jenis kelamin, orientasi seksual, usia, tinggi dan berat badan, hingga ukuran Celana dalam, tumbuh subur di kota-kota tersebut. mengapa??? Mungkin tesis Weber dapat menjadi pengantar yang cocok untuk jawaban dari pertanyaan ini. Meskipun, beberapa sarjana Barat banyak yang membantah tesis Weber, tidak ada salahnya kita renungkan kembali Protestant Ethic and Spirit of Capitalism dalam konteks ke-Indonesiaan.
Simplifikasi jawaban yang “ekstrim dan konservatif” dari pertanyaan ini adalah karena Islam memang agama yang memudahkan (secara interpretatif yang sistematis) untuk menjadi seorang yang statis, anti inovasi, miskin, melarat, susah, suka menjadi problem bagi yang lain, beribadah hanya ritual-performatif, maunya yang serba instan, dll. Sementara Protestant sebaliknya.. benarkah demikian??????? Mari kita pikirkan sambil ngopi saudara… 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *