Ramadhan ketiga: Prof. Yudian A. Wahyudi, M.A., Ph.D

yudian wahyudiMalam ini, malam ketiga Ramadhan 1436 hijriyah. Suasana masjid UIN SUKA lebih ramai, hentakan suara aktor lebih menggelegar, tawa sekumpulan pria berpakaian panjang dan sekelompok wanita dibalut mukena makin bingar. Ramainya suasana audiens menandakan ketertarikan dan keheranan pada satu tokoh yang malam ini mencoba membumikan pesan lailatul qadar melalui interpretasi (lailatul qadar)yang lebih duniawi, konkrit dan aplicable. Lailatul qadar menurut tokoh ini adalah konsep dunia yang konkrit, bukan hanya sekedar konsep ampunan, rahmat serta maghfiroh Tuhan yang masih abstrak. Lailatul qadar adalah satu malam lebih baik daripada seribu bulan. Bagaimana jargon ini dapat bekerja sebagai pandangan hidup di dunia? Kita lihat konteks ketika dijanjikannya lailatul qadar, di malam itulah ada perubahan pada diri Muhammad, dari yang sebelumya hanya makhluk biologis ibni ’Abdillah menjadi makhluk fungsional Rasulillah. Inilah bentuk lailatul qadar di tangan Muhammad. Jadi, lailatul qadar itu pandangan bahwa seorang manusia itu akan mendapatkan qudrohnya setelah ia diukur sesuai kemampuannya. Manusia mendapatkan lailatul qadar ketika selepas bulan puasa yang dipenuhi dengan i’tikaf, merenung, mengendalikan diri, lalu mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Jadi lailatul qadar dapat didapatkan ketika ia mengaktualisasikan harapannya setelah melakukan perenungan di bulan Ramadhan. Mahasiswa yang menyelesaikan tesis dan disertasinya ketika puasa, maka itulah lailatul qadar mahasiswa, pedagang yang meraup keuntungan dan dapat menafkahi keluarganya, maka itulah lailatul qadar para pedagang, seorang yang lulus berkas untuk menjadi profesor, itulah lailatul qadar bagi seorang calon professor atau guru besar. Dan lain sebagainya dari contoh contoh yang ada.

Jadi menurut aktor yang mengaku identitas dirinya sebagai seorang Prof. K.H Yudian A. Wahyudi, M.A., Ph.D. Lailatul qadar bukanlah ibadah menunggu bulan di masjid-masjid dalam konsep yang abstrak dan tidak jelas itu, tetapi orang yang berbuat sesuai ukurannya dan ia memaksimalkan potensi positif yang ada dalam dirinya untuk merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Dan ketika itu tercapai, itulah lailatul qadar yang didapatkan oleh seseorang tersebut.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *