Tanggapan Langgam Jawa

quran + kreatifitasSebenarnya saya enggan membahas masalah yang akan ditulis ini, soal konsep,teori, atau proyek yang diistilahkan dengan Islam Nusantara. Kemudian dikaitkan dengan pembahasan pembacaan Qur’an menggunakan langgam Jawa. Ya, langgam Jawa dalam membaca Qur’an hingga saat ini masih menjadi pembicaraan yang asyik untuk dibedah. Meskipun membahas isu tersebut lumrah adanya, tetapi menurut saya itu cukup mengganggu apabila dibedah dalam obrolan singkat antar kawan, keluarga dan tetangga berbekal ilmu seadanya, dan pasti menghasilkan cibiran-cibiran pahit terhadap ilmu pengetahuan. Masyarakat menanggapinya dengan beragam. Beberapa orang menyanjungnya, beberapa lainnya mencela hingga terucap sumpah serapah tertuju bagi langgam pelantunan Qur’an yang tidak familiar, beberapa kalangan lagi berusaha untuk bersikap moderat.

Sikap banyak orang yang paling mengganggu saya adalah mendukung dan menolak secara membabi buta. Hasil dari sikap tersebut pastilah indoktrinasi yang tak jarang mengabaikan unsur penting dalam penyampaian ilmu pengetahuan; netralitas. Kekeliruan pun sering terjadi ketika penyampaian argumen berada dalam jalur indoktrinasi. Bagi yang mencerca, argumen mereka hanya disandarkan pada “kekurang sesuaian” bacaan dengan kaidah tajwid dan dzauq yang “aneh” ketika mendengarnya. Pun begitu pula yang membela langgam tersebut, kekeliruan yang menurut saya banyak diutarakan oleh masyarakat dalam menanggapi kasus langgam ini adalah penyamaan definisi antara LANGGAM dan QIRA’AT. Langgam dan qiraah sebenarnya adalah dua term yang berbeda, namun tak sedikit masyarakat yang “sok mengerti” dengan menyamakan dua istilah tersebut. Berbekal ilmu umum seadanya dipadukan dengan pembawaan yang sedikit berwibawa, mereka dengan kepercayaan diri yang tinggi berargumen bahwa langgam jawa sama halnya dengan langgam yang banyak digunakan oleh beberapa Qori’ seperti Mu’ammar ZA, Maria Ulfa, Ali Yusni, Nanang Qosim, atau bahkan seperti yang dilantunkan para imam besar Sudais, Suraim dkk, yang mereka istilahkan sendiri dengan nama qiraat sab’ah. Itu.

Qira’at Sab’ah=Langgam sab’ah??

Sebelumnya, saya harus mengakui bahwa saya memang kurang kompeten dalam membahas ilmu ini secara detail dan holistik. Namun sebagai “pengantar” dan sekaligus untuk menumpahkan rasa kesal karena terlalu muak dengan pembicaraan orang-orang yang sok memegang otoritas benar-salah, dosa-pahala dan surga-neraka hanya karena kasus Islam Nusantara dan Langgam, saya rasa ini boleh saja.

Sebagaimana yang telah disinggung, banyak yang menyamakan antara langgam dan qira’at. Jika kita mau sedikit membuka literatur ilmu qiraat, kita akan banyak menemukan ragam qira’at yang dibahas, setidaknya terdapat tujuh macam jenis bacaan yang terkenal dan tersosialisasi hingga ke bumi Nusantara dengan istilah qiraat sab’ah, namun terdapat riwayat lain yang mengatakan qira’at ‘asyrah/sepuluh dll. Qira’at sebenarnya bukan langgam, ia adalah versi bacaan yang pernah dibaca oleh para sahabat Muhammad dan didengarkan oleh beberapa orang lain. Karenanya, qira’at tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu dinisbatkan kepada person yang dianggap sebagai orang awal dalam melafadhkan redaksi tersebut. Contoh, qira’at ibnu katsir, qira’at ibnu Amr, Abu Amir, Ibnu Ishaq, dan kalangan kuffah seperti Hamzah, ‘Ashim, Kisay dll. Untuk rujukan dari informasi qiraat ini bisa dibaca pada karya Ibnu Mujahid berjudul Kitab as-Sab’ah. Jadi, dalam ilmu qiraat membahas berbagai macam perbedaan dalam melafalkan qur’an. Salah satu yang bisa diambil contoh adalah perbedaan panjang pendeknya kata, di surat al-Fatihah (maaliki yaumiddin= mim panjang=مالك) dibaca hanya (maliki yaumiddin=mim pendek= ملك), taqdim dan ta’khir seperti bacaan و جاءت سكرة الموت بالحق dibaca و جاءت سكرة الحق بالموت, pada surat Qaf ayat 19. Dan sebenarnya masih banyak lagi perbedaan pembacaan yang bahkan harus memutar makna dan dibutuhkan inovasi interpreatasi.

Sedangkan lagu yang dibaca oleh Muammar ZA dkk itu apakah Qiraat? Bukan, lebih tepatnya itu nazm, itu bisa dikatakan langgam. Langgam yang digunakan pujangga Persia sejak zaman sebelum masehi untuk melantunkan syair-syair cinta dan kehidupan, yang kemudian dipaksakan dalam melantunkan Qur’an agar lebih menyentuh sisi estetis dari pembacaan Qur’an. Karenanya dayuan lagu tersebut memiliki nama dalam sentuhan persia: Bayati, Hijaz, Nahawan, Rosy, Shoba, Shikka, Jiharka. Nah, melalui paragraf ini sebenarnya dapat diketahui secara singkat mengenai apa itu langgam dan qira’at.

Di luar pembahasan qira’at dan langgam. Sebenarnya yang terpenting dari pembacaan Qur’an adalah bagaimana esensi dari tiap-tiap redaksi Qur’an merasuk ke dalam jiwa pendengar maupun pembaca.

Langgam, Nilai Estetika Lokal dan Persoalan Politik.

Perlu diketahui bahwa pelantunan ayat-ayat qur’an dengan menggunakan langgam tertentu hanayalah sebatas kreativitas budaya demi kepentingan estetis. Selain itu, penggunaan langgam Jawa (atau sunda, sumatra, kalimantan dll jika ada nantinya) merupakan bagian dari re-demonstrasi kearifan lokal Nusantara yang saat ini sedang tergerus oleh globalisasi. Qur’an seharusnya tidak hanya boleh dinikmati melalui budaya Arab saja, Persia saja, Turki saja, melainkan boleh dinikmati melalui berbagai macam penghayatan budaya apapun, termasuk budaya yang ada di bumi Nusantara.

Lantas, kaitannya antara qiraat dan fenomena pelantunan Qur’an dengan langgam budaya bagaimana? Jika perbedaan qiraat yang dapat melahirkan arti dan interpretasi beragam saja masih ditolerir oleh Muhammad sendiri seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Mujahid (meskipun di dalamnya sendiri terdapat unsur politis dalam menetapkan qiraat tertentu), apalagi hanya perbedaan langgam yang masih berupaya dan bersikeras mengikuti kaidah-kaidah tajwid dan sama sekali tidak terdapat perubahan lafadz dengan mushaf umum yang sekarang beredar di dunia?? Tentu tidak bijak jika membenar-benarkan apalagi menyalah-nyalahkan fenomena tersebut dengan cara-cara doktriner.

Sebenarnya, di luar mempermasalahkan langgam Jawa, ada sasaran lain yang ingin dibidik oleh pihak-pihak tertentu dengan peristiwa isra’ mi’raj di istana negara tersebut. Siapa? Pasti sudah dapat ditebak melalui alur berfikir berita yang menyudutkan pembacaan langgam Jawa di Istana negara. Kurang lebih, alurnya seperti ini: pembacaan qur’an dengan langgam Jawa=banyak terjadi ketidak sesuaian dengan kaidah tajwid=dzauk yang kurang pas ketika mendengarkannya=momen yang tidak tepat= ditambah kesalahan MC ketika menyebut acara tahun baru hijriyah,  tentu ini merupakan kesalahan fatal dalam skala nasional seperti di Istana Negara –> siapa yang melakukan itu? diawali dengan Saran Dirjen Bimas Kemenag merekomendasikan Yasir Arafat membaca dengan langgam Jawa –> kemenag itu scara struktural ada di mana? Di bawah kekuasaan eksekutif=Presiden –> siapa Presidennya?? Itu laah.. = secara tidak langsung kita digiring untuk menjatuhkan dan membacakan aib pemerintahan yang saat ini sedang berjalan. Sungguh, nuansa politis menurut saya lebih terasa daripada nuansa teologis dalam perdebatan ini. Karenanya, dibutuhkan sikap yang bijak ketika berkomentar perihal “ecek-ecek” semacam ini. Selanjutnya, terjadi lagi, wacana Islam Nusantara diserang. Padahal semenjak tahun 50 an Indonesia telah memiliki Universitas Islam Nusantara di Bandung, dan gak ada ribut-ribut tuh… Kenapa sekarang diserang??? seolah-olah Islam Nusantara itu salah besar (pake banget)…??

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *